Air Asam Tambang – Indonesia

Pengaruh temperatur pada reaksi oksidasi

Posted in Diskusi by Candra Nugraha on 28/07/2012

Banyak faktor yang menentukan kecepatan reaksi oksidasi mineral pyrite dalam pembentukan air asam, diantaranya adalah keberadaan bakteri, kondisi pH, luas permukaan pyrite, temperatur, dan konsentrasi oksigen. Faktor-faktor ini berinteraksi satu sama lain secara rumit. Tulisan ini sedikit mengulas pengaruh temperatur.

Dalam reaksi kimia secara umum, pengaruh temperature terhadap kecepatan reaksi dijelaskan secara singkat di laman ini.

Selanjutnya dalam kaitannya dengan pembentukan air asam, saya awali dengan mengutip dari laman ini:

Effect of Temperature – In general, the rates of reactions that form AMD increase with increasing temperature, so that AMD is formed faster if the pyritic material is warm. An exception to this trend is the rate of Fe oxidation by T. ferrooxidans above about 35oC. These bacteria thrive at optimum temperatures of 25 to 35oC, but they become inactive or die as temperatures increase to about 55oC (Cathles, 1979). Measurements indicate that oxidizing sulfide-rich material can warm internally to temperatures at least as high as 60oC because of the heat released by the oxidation reactions (Cathles and Apps, 1975). Some sulfide-rich material actually undergoes spontaneous combustion.

Seperti disebutkan juga diatas, reaksi oksidasi pyrite bersifat eksotermis, artinya menghasilkan panas. Dan perubahan temperatur akibat reaksi ini tentunya akan juga mempengaruhi kecepatan reaksi. Dalam analisa Net Acid Generation (NAG) test, kondisi eksotermis seringkali teridentifikasi secara nyata/langsung melalui tabung sample yang terasa panas setelah penambahan larutan Hydrogen Peroxide pada sampel batuan, apabila batuan tersebut mengandung pyrite, khususnya yang reaktif.

Penelitian yang dilakukan oleh Lovisa Larsson dkk yang berjudul “Leaching of Sulfidic Alum Shale Waste at Different Temperature” yang dipresentasikan di ICARD 2012 menyimpulkan bahwa kecepatan oksidasi meningkat seiring dengan meningkatnya temperatur. Hal ini ditunjukkan dengan perbedaan kualitas air lindi yang dihasilkan dalam percobaan dengan menggunakan temperatur -18 oC, 22 oC, dan 70 oC. Konsentrasi Uranium, Molibdenum, Vanadium, dan Sulphate meningkat seiring dengan meningkatnya temperatur, termasuk acidity.

Dalam sistem timbunan batuan, peningkatan temperatur dapat mempengaruhi kondisi fisik timbunan, dimana rongga/pori batuan yang terisi air akan terbuka karena terjadi penguapan, mengakibatkan masuknya udara mengandung oksigen yang kemudian dapat memicu terjadinya oksidasi (Catatan: hanya diperlukan sedikit air untuk bersama oksigen mengoksidasi pyrite).

Selamat berdiskusi. Salam.

Candra

 

 

 

Iklan
Tagged with: , ,

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: