Air Asam Tambang – Indonesia

Wet cover systems

Posted in Diskusi by Candra Nugraha on 19/07/2012

Mungkin pernah mendengar istilah ini? Istilah ini lazim digunakan untuk menyebut sebuah sistem lapisan penutup batuan yang berpotensi mengandung asam, atau dikenal luas dengan sebutan Potentially Acid Forming (PAF). Tujuan dari penutup ini adalah untuk mengurangi potensi masuknya oksigen dan air kedalam timbunan. Seperti dijelaskan di tulisan-tulisan sebelumnya, pembentukan air asam dipicu oleh kehadiran dua komponen tersebut, air dan oksigen.

Mengapa disebut sistem lapisan? Karena dalam beberapa kasus, penutup batuan PAF ini dapat terdiri atau tersusun dari berbagai material yang dibentuk lapis demi lapis, seperti misalnya tanah liat dan batuan NAF, batuan NAF dipadatkan dan soil, dan sebagainya.

Seperti dijelaskan disini, penutup dapat berupa penutup kering (dry cover) atau penutup basah (wet cover). Istilah wet cover lazim digunakan untuk sistem penutup yang menggunakan air, sedangkan dry cover digunakan untuk penutup yang menggunakan material lain yang cenderung kering.

Teknik wet cover system secara prinsip sangat sederhana, yaitu menempatkan batuan PAF dibawah lapisan air dengan kedalaman tertentu. Para peneliti banyak yang mengatakan bahwa kedalaman air 1 meter cukup untuk menutup material PAF dari kemungkinan teroksidasi oleh adanya oksigen yang masuk ke lapisan batuan PAF tersebut. Ya, air merupakan lapisan yang efektif untuk menahan laju oksigen ke kedalaman. Namun, tentu saja kedalaman 1 meter ini memerlukan prasyarat, yaitu lapisan air tidak teraduk atau mengalami turbulensi akibat tiupan angin, aliran air yang deras, dsb. Oleh karena itu, para ahli lain menyarankan kedalaman 2 meter untuk mengantisipasi kondisi tersebut.

Dalam prakteknya, wet cover system ini bisa dilakukan dengan memanfaatkan lubang bekas tambang yang diisi kembali (back fill) dengan overburden, yang kemudian menyisakan ruang agar air bisa menggenangi material tersebut. Tentu saja, secara operasional, hal ini berarti akan mengurangi potensi volume yang bisa ditimbun di area tersebut :). Sampai kapan air harus menggenangi material tersebut? Jawabannya adalah: selamanya. Oleh karena itu, penting untuk memperhitungan kondisi hidrologis di lokasi tersebut, untuk dapat memastikan bahwa air yang masuk ke area tersebut tidak lebih kecil dibandingkan dengan air yang keluar (over flow) atau menguap (evaporasi). Tersingkapnya material PAF akan berpotensi pada terjadinya air asam.

Bagaimana jika material tersingkap dan kemudian menjadi media tumbuh tanaman air? Apa yang terjadi dilokasi tersebut? Bagaimana kemungkinan kualitas airnya? dsb…. Jawaban pertanyaan-pertanyaan tersebut akan dibahas secara khusus pada bagian “Wetland”.

 

Salam lingkungan,

Candra
 

 

 

Iklan
Tagged with: , ,

Satu Tanggapan

Subscribe to comments with RSS.

  1. sri dosomuko said, on 12/01/2013 at 19:50

    Biasanya pirit diletakkan pada lobang paling dalam, kemudian dilapisi dengan insulator, misalnya tanah blueclay/gleysol
    (warna tanah abu-abu dan halus sekali).
    Lapisan blueclay setebal 1 meter kemudian disiram dengan air, kemudian jika kering akan kedap terhadap air, sangat efektif untuk mencegah kontak langsung terhadap oksigen dan air hujan.
    Namun hati-hati, biasanya blueclay justru berpirit. Carilah blueclay yang tidak berpirit.

    Selamat mencoba.

    srisoegiharto@gmail.com


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: